Pentingnya Pendidikan

Saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II, negeri Matahari Terbit itu terpuruk. Sebagai pimpinan tertinggi, Sang Kaisar Hirohito harus melakukan sesuatu agar negaranya tak runtuh. Hal pertama yang ditanyakan olehnya adalah: “Berapa guru yang masih kita miliki?” Ini adalah pernyataan legendaris Sang Kaisar yang memperlihatkan, betapa pentingnya pendidikan untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk kebangkitan bangsa.

Ibarat bangunan, pendidikan merupakan salah satu tiang penyangga agar bangunan tersebut berdiri lebih tegap dan kuat. Indonesia, negara yang memiliki lebih dari 240 juta jiwa penduduk, memang sudah seharusnya mengedepankan pendidikan untuk memajukan peradaban sehingga bisa berdiri lebih kuat lagi dalam menghadapi perkembangan zaman.

Namun sangat disayangkan, masih banyak lapisan masyarakat yang kurang—atau bahkan belum—peduli akan pendidikan. Banyak penduduk—yang kebanyakan—kalangan bawah, masih mengesampingkan pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa pendidikan itu masih nomor sekian, yang terpenting adalah bagaimana untuk berjuang bertahan hidup. Data UNICEF 2011 menyebut, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia yang seharusnya bersekolah tidak dapat menikmati pendidikan: 600.000 anak usia sekolah dasar dan 1.9 juta anak usia sekolah menengah pertama (13-15 tahun).

Padahal, jika mereka menyadari pentingnya pendidikan, akan membuat hidup mereka terangkat. Setidaknya bisa menjadi bekal untuk mencari sumber-sumber kehidupan yang lebih baik. Beruntung, founding fathers kita sejak awal sudah menyadari pentingnya pendidikan. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi pertama yang lahir menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Hal itu mencerminkan keseriusan negara ini dalam bidang pendidikan.

Kini, dengan pendidikan dasar wajib 9 tahun yang ditetapkan pemerintah, ditambah adanya modal bantuan pendidikan—seperti Kartu Indonesia Pintar—kita berharap, pendidikan Indonesia akan makin maju. Makin banyak orang yang sadar, pendidikan itu memang penting. Apalagi, jika menilik data hasil penelitian di Amerika Serikat di tahun 2010 ini. Center for Economic and Policy Research (CEPR) yang menyebutkan hanya 17 persen orang akan sukses jika tidak memiliki pendidikan yang cukup. Sebaliknya, mereka yang punya bekal pendidikan lebih tinggi, kemungkinan suksesnya naik hingga 34 persen.

Bila setiap lapisan masyarakat menyadari pentingnya pendidikan, kemuliaan atau kesejahteraan penduduk Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Cita-cita dari Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga bakal terwujud. Ki Hadjar pernah berujar, “Lawan sastra ngesti mulya” alias “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan”. 

Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Kita bisa menggunakan filosofi dari Ki Hadjar untuk memperbaiki ketertinggalan kita dalam hal ilmu dan pendidikan. Bila negara lain seperti Jepang bisa melakukannya, kita pun pasti bisa melakukannya.

superadmin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *